Laman

Selasa, 10 November 2015

Definisi Obat Herbal

Herbal

Herbal adalah tanaman atau tumbuhan yang mempunyai kegunaan atau nilai lebih dalam pengobatan. Dengan kata lain, semua jenis tanaman yang mengandung bahan atau zat aktif yang berguna untuk pengobatan bisa digolongkan sebagai herbal. Herbal kadang disebut juga sebagai tanaman obat, sehingga dalam perkembangannya dimasukkan sebagai salah satu bentuk pengobatan alternative.

Obat Herbal

Obat herbal adalah obat yang bersifat organik atau alami, sama seperti tubuh kita. Obat herbal murni diambil dari saripati tumbuhan atau hewan yang mempunyai manfaat untuk pengobatan, tanpa ada campuran bahan kimia buatan (sintetis). Obat Herbal yang berasal dari tumbuhan (nabati) misalnya jahe, bawang putih, kurma, jintan hitam (Habbatussauda), dsb. Yang berasal dari hewan (hewani) diantaranya Teripang (Gamat), Madu, Propolis, minyak ikan hiu, dsb.
Pada jaman sekarang ini, dengan berkembangnya teknologi kedokteran yang semakin pesat dan banyaknya riset penelitian berkaitan dengan obat-obatan, maka semakin membuka mata kita bahwa ternyata alam secara alaminya telah menyediakan obat yang manjur untuk segala penyakit. Obat-obatan itu tidaklah sulit dicari dan beda dengan obat dari bahan kima sintetis, yang lambat laun akan menimbulkan efek samping pada tubuh kita.

Senin, 09 November 2015

Definisi Obat Tradisional



Obat Tradisional



Obat tradisional adalah bahan atau ramuan yang berupa bahan tumbuhan,


bahan hewan, bahan mineral, sediaan galenik atau campuran dari bahan-bahan


tersebut, yang secara tradisional telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan


pengalaman. Obat tradisional dibuat atau diramu dari bahan tumbuh-tumbuhan,


bahan hewan, sediaan sarian (galenik), atau campuran bahan-bahan tersebut. Obat


tradisional secara turun-temurun telah digunakan untuk kesehatan berdasarkan


pengalaman. Obat tradisional telah digunakan oleh berbagai aspek masyarakat


mulai dari tingkat ekonomi atas sampai tingkat bawah, karena obat tradisional


mudah didapat, harganya yang cukup terjangkau dan berkhasiat untuk


pengobatan, perawatan dan pencegahan penyakit (Ditjen POM, 1994).


Untuk meningkatkan mutu suatu obat tradisional, maka pembuatan obat


tradisional haruslah dilakukan dengan sebaik-baiknya mengikutkan pengawasan


menyeluruh yang bertujuan untuk menyediakan obat tradisional yang senantiasa


memenuhi persyaratan yang berlaku. Keamanan dan mutu obat tradisional


tergantung dari bahan baku, bangunan, prosedur, dan pelaksanaan pembuatan,


peralatan yang digunakan, pengemasan termasuk bahan serta personalia yang


terlibat dalam pembuatan obat tradisional (Dirjen POM, 1994).


Bahan-bahan ramuan obat tradisional seperti bahan tumbuh-tumbuhan,


bahan hewan, sediaan sarian atau galenik yang memiliki fungsi,

pengaruh serta khasiat sebagai obat, dalam pengertian umum kefarmasian


bahan yang digunakan sebagai simplisia. Simplisia adalah bahan alamiah yang


dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan


kecuali dinyatakan lain berupa bahan yang dikeringkan (Dirjen POM, 1999).


Menurut Material Medika (MMI, 1995), simplisia dapat digolongkan


dalam tiga kategori, yaitu:


1. Simplisia nabati


Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tanaman utuh, bagian tanaman


atau eksudat tanaman. Eksudat adalah isi sel yang secara spontan keluar dari


tanaman atau isi sel yang dengan cara tertentu dipisahkan dari tanamannya


dan belum berupa zat kimia.


2. Simplisia hewani


Simplisia hewani adalah simplisia yang berupa hewan atau bagian hewan zat-


zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia murni.


3. Simplisia pelikan (mineral)


Simplisia pelikan adalah simplisia yang berupa bahan-bahan pelican (mineral)


yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa


zat kimia.


Zat kimia berkhasiat (obat) tidak diperbolehkan digunakan dalam


campuran obat tradisional karena obat tradisional diperjual belikan secara bebas.


Dengan sendirinya apabila zat berkhasiat (obat) ini dicampurkan dengan ramuan


obat tradisional dapat berakibat buruk bagi kesehatan (Dirjen POM, 1986).

Tanaman Obat


Pengetahuan tentang tanaman berkhasiat obat ini sudah lama dimiliki oleh


nenek moyang kita dan hingga saat ini telah banyak yang terbukti secara ilmiah.


Dan Pemanfaatan tanaman obat Indonesia akan terus meningkat mengingat


kuatnya keterkaitan bangsa Indonesia terhadap tradisi kebudayaan memakai jamu.


Bagian-bagian yang digunakan sebagai bahan obat yang disebut simplisia.


Simplisia:


a. Kulit (cortex)


Kortek adalah kulit bagian terluar dari tanaman tingkat tinggi yang


berkayu.


b. Kayu (lignum)


Simplisia kayu merupakan pemanfaatan bagian dari batang atau cabang.


c. Daun (folium)


Folium merupakan jenis simplisia yang paling umum digunakan sebagai


bahan baku ramuan obat tradisional maupun minyak atsiri.


d. Herba


Simplisia herba pada umumnya berupa produk tanaman obat dari jenis


herba yang bersifat herbaceous.


e. Bunga (flos)


Bunga sebagai simplisia dapat berupa bunga tungga atau majemuk, bagian


bunga majemuk serta komponen penyusun bunga.

f. Akar (radix)


Akar tanaman yang sering dimanfaatkan untuk bahan obat dapat berasal


dari jenis tanaman yang umumnya berbatang lunak dan memiliki


kandungan air yang tinggi.


g. Umbi (bulbus)


Bulbus atau bulbi adalah produk berupa potongan rajangan umbi lapis,


umbi akar, atau umbi batang. Bentuk ukuran umbi bermacam-macam


tergantung dari jenis tanamannya.


h. Rimpang (rhizoma)


Rhizoma atau rimpang adalah produk tanaman obat berupa potongan-


potongan atau irisan rimpang.


i. Buah (fructus)


Simplisia buah ada yang lunak dan ada pula yang keras. Buah yang lunak


akan menghasilkan simplisia dengan bentuk dan warna yang sangat


berbeda, khususnya bila buah masih dalam keadaan segar.


j. Kulit buah (perikarpium)


Sama halnya dengan simplisia buah, simplisia kulit buah pun ada yang


lunak, keras bahkan adapula yang ulet dengan bentuk bervariasi.


k. Biji (semen)


Semen (biji-bijian) diambil dari buah yang telah masak sehingga


umumnya sangat keras. Bentuk dan ukuran simplisia biji pun bermacam-


macam tergantung dari jenis tanaman (Widyastuti, 2004).

Bentuk sediaan Obat Tradisional


Obat tradisional tersedia dalam berbagai bentuk yang dapat diminum atau


ditempelkan pada permukaan pada permukaan kulit. Tetapi tidak tersedia dalam


bentuk suntikan atau aerosol. Dalam bentuk sediaan obat- obat tradisional ini


dapat berbentuk serbuk yang menyerupai bentuk sediaan obat modren, kapsul,


tablet, larutan, ataupun pil (BPHN, 1993).


Larutan


Larutan terjadi apabila suatu zat padat bersinggungan dengan suatu cairan,


maka padat tadi terbagi secara molekuler dalam cairan tersebut. Zat cair atau


cairan biasanya ditimbang dalam botol yang digunakan sebagai wadah yang


diberikan. Cara melarutkan zat cair ada dua cara yakni zat-zat yang agak sukar


larut dilarutkan dengan pemanasan (Anief, 2000).


Serbuk


Serbuk adalah campuran homogen dua atau lebih obat yang disebukkan.


Pada pembuatan serbuk kasar, terutama serbuk nabati, digerus terlebih dahulu

sampai derajat halus tertentu setelah itu dikeringkan pada suhu tidak lebih 500C.


Serbuk obat yang mengandung bagian yang mudah menguap dikeringkan


dengan pertolongan bahan pengering yang cocok, setelah itu diserbuk dengan


jalan digiling, ditumbuk dan digerus sampai diperoleh serbuk yang mempunyai


derajat halus serbuk (Anief, 2000).


Tablet


Tablet adalah sediaan padat, dibuat secara kempa-cetak, berbentuk rata


atau cempung rangkap, umumnya bulat, mengandung satu jenis obat atau lebih

dengan atau tanpa zat tambahan. Zat pengembang, zat pengikat, zat pelicin, zat


pembasah. Contohnya yaitu tablet antalgin (Anief, 2002).


Pil


Pil adalah suatu sediaan yang berbentuk bulat seperti kelereng


mengandung satu atau lebih bahan obat. Berat pil berkisar antara 100 mg sampai


500 mg. untuk membuat pil diperlukan zat tambahan seperti zat pengisi untuk


memperbesar volume, zat pengikat dan pembasah dan bila perlu ditambah


penyalut (Anief, 2002).


Kapsul


Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras


atau lunak yang dapat larut. Cangkang umumnya terbuat dari gelatin, tetapi dapat


juga terbuat dari pati dan bahan lain yang sesuai.


Ukuran cangkang kapsul keras bervariasi dari nomor paling kecil (5)


sampai nomor paling besar (000), dan ada juga kapsul gelatin keras ukuran 0


dengan bentuk memanjang ( dikenal sebangai usuran OE), yang memberikan


kapasitas isi yang lebih besar tanpa peningkatan diameter. Contohnya kapsul


pacekap (Farmakope IV, 1995).


Simplisia yang terdapat dalam jamu


-     Coriandri Fruktus


Ketumbar adalah Coriandrum sativum suku Apiaceae


Ketumbar berkhasiat untuk meredakan pusing, muntah- muntah, influensa,


wasir, radang lambung, campak, masuk angin, terkena darah tinggi, dan


lemah syahwat.

-     Myristicae semen


Buah pala adalah myristica fragrans suku Myristicaceae


Mengandung minyak atsiri, zat samak, dan zat pati.


Buah pala berkhasiat sebagai obat diare, kembung, mual serta untuk


menetapkan daya cerna dan selera makan, yang kaya akan vitamin C,


kalsium, dan posfor.


Senyawa kimia buah pala tersebut terdapat    dikulit, daging, biji pala


hingga bunganya.


-     Piperis Nigri Fruktus


Lada hitam adalah piper nigrum suku Piperaceae


Mengandung saponim, flavonoid, minyak atsiri, kavisin, resin, amilum.


Lada hitam berkhasiat untuk memperlancar menstruasi, meredakan


serangan asma, meringankan gejala ramatik, mengatasi perut kembung


serta menyembuhkan sakit kepala.


-     Andrographis Herba


Tanaman sambiloto adalah Andrograpis Peniculata suku Acanthaceae.


Mengandung flavinoid, alkane, keton, aldehid, dan beberapa mineral


seperti kalium, kalsium, dan natrium. Tanaman ini berkhasiat sebagai


antiradang , analgetik, dan penawar racun.


-     Curcumae Rhizoma


Temulawak     adalah     Curcuma     Xanthorrhiza     suku     Zingiberaceae.


Mengandung pati, kurkuminoid, dan minyak atsiri. Temulawak berkhasiat


antiradang, antisembelit, tonikum, dan diuretik.

Obat Analgetik


Analgetik atau obat penghalang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau


menghalau rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran (Tjay, 2002).


Nyeri adalah perasaan sensonis dan emosionis yang tidak nyaman,


berkaitan dengan (ancaman) kerusakan jaringan. Keadaan psikis sangat


mempengaruhi nyeri, misalnya emosi dapat menimbulkan sakit (kepala) atau


memperhebatnya, tetapi dapat pula menghindari sensasi rangsangan nyeri. Nyeri


merupakan suatu perasaan subjektif pribadi dan ambang toleransi nyeri berbeda-


beda bagi setiap orang (Tjay, 2002).


Parasetamol


Asetaminofen (parasetamol) atau derivat- asetaninilida ini adalah


merupakan metabolit fenasetin yang dahulu banyak digunakan sebagai


analgetikum, tetapi pada tahun 1978 telah ditarik dari peredaran karena efek


sampingnya (nefrotoksisitas dan karsinogen). Khasiatnya analgetis dan antipiretis,


tetapi tidak antiradang. Dewasa ini pada umumnya dianggap sebagai anti nyeri


yang paling aman, juga swamedikasi (pengobatan mandiri). Resopsinya dari usus


cepat dan fraktis tuntas, secara rektal lebih lambat. Asetaminofen di Indonesia


lebih dikenal dengan parasetamol (Tjay, 2002).


Efek samping tidak jarang terjadi antara lain reaksi hipersensitivitas dan


kelaian darah. Pada penggunaan kronis dari 3-4 g sehari dapat terjadi kerusakan


hati, pada dosis di atas 6 g mengakibatkan necrose hati yang tidak reversible.


Overdosis bisa menimbulkan antara lain mual, muntah (Tjay, 2002).

Sifat Zat Berkhasiat


1. Sinonim                     : 4–Hidroksiasetanilida



-     Rumus molekul  : C8H9NO2


-     Berat moleku   : 151,16
        
     2. Sifat Kimia (chairul, 2006).


1. Campuran 100 mg zat dengan 1 ml HCl p, didihkan 3 menit, kemudian


tambahkan 10 ml air, dinginkan tidak terjadi endapan, tambahkan 1 tetes


K2Cr2O7 0,1 N maka akan terbentuk warna ungu yang tidak berubah


menjadi merah.


2. Larutkan zat tambah beberapa tetes HCl 10%, dinginkan di es, tambahkan


beberapa tetes NaNO2 1%, tambahkan beberapa tetes larutan 1% α naftol


dalam NaOH 10% maka akan terbentuk warna merah atau jingga merah.


3. Larutan zat ditambahkan FeCl3 menghasilkan warna biru ungu.


3. Sifat fisika (Famakope Indonesia Edisi IV, 1995)




1. Pemberian


2. Kelarutan

: Serbuk hablur, putih, tidak berbau, rasa sedikit pahit.


: Larut dalam air mendidih dan dalam natrium hidroksida 1




N : mudah larut dalam etanol.

3. Jarak lembur : Antara 1680 dan 1720.


Identifikasi Parasetamol


Cara Identifikasi parasetamol dapat dilakukan secara fisika dan kimia.


1. Cara kimia


-      Dengan penambahan HCl, dan K2Cr2O7 0,1 N.


-      Dengan penambahan HCl 10%, NaNO2 1% dan 1% α naftol dalam NaOH


10%.

-      Larutan zat ditambahkan FeCl3.


2.     Cara Fisika


Dilakukan dengan cara pemisahan senyawa, yang dilakukan dengan:


-     Kromatografi yakni membandingkan harga Rf zat dengan baku


pembanding.


Kromatografi


Kromatografi adalah suatu nama yang diberikan untuk teknik pemisahan


tertentu. Cara yang asli telah ditengahkan pada tahun 1903 oleh TSWETT, ia telah


menggunakan untuk pemisahan senyawa- senyawa yang berwarna dan nama


kromatografi diambil dari senyawa yang berwarna. (Sastrohamidjojo, 1985).


Kromatografi Lapis Tipis


Kromatografi lapis tipis dapat digunakan untuk keperluan yang luas dalam


pemisahan- pemisahan. Disamping menghasilkan pemisahan yang baik, juga


membutuhkan waktu yang lebih cepat.


Plat kromatografi dibuat dengan cara, penjerap padat yang berbentuk


bubukan halus dibuat menjadi halus dibuat menjadi bubur(slurry) dengan air


(kurang umum dengan zat cair organik yang mudah menguap) dan dibentang


diatas plat gelas. Plat yang telah dilapisi dipanaskan atau diaktifkan dengan jalan

memanaskannya pada suhu kira-kira 1000C selama 30 menit. Pemilihan pertama


dari pelarut adalah bagaimana sifat kelarutannya, tetapi sering lebih baik untuk


memilih suatu pelarut yang tergantung dari pada kekutan elusi, yang dimaksud


kekuatan dari zat elusi adalah daya penyerapan pada penyerap. Biasa penyerap-


penyerap yang polar seperti alumina dan silika gel, maka kekuatan penyerapan


naik dengan kenaikan polaritas dari zat yang diserap.

Senyawa-senyawa yang terpisah pada lapisan pada lapiasan tipis


diidentifikasi dengan melihat florosensi dalam sinar ultraviolet. Dan mencari


harga Rf , faktor-faktor yang mempengaruhi gerakan noda dalam kromatografi


lapisan tipis yang juga mempengaruhi harga Rf, yaitu:


1. Struktur kimia dari senyawa yang sedang dipisahkan.


2. Sifat dari penyerap dan derajat aktifitasnya.


3. Tebal dan kerataan dari lapisan penyerap.


4. Pelarut (dan derajat kemurniannya) fasa gerak.


5. Derajat kejenuhan dari uap dalam bejana pengembangan yang digunakan.


6. Teknik percobaan.


7. Jumlah cuplikan yang digunakan.


8. Suhu.


9. Kesetimbangan


Alat untuk kromatografi lapis tipis yaitu lempengan kaca, dengan tebal


serba rata dan unsuran yang sesuai, umumnya 20 × 20 cm.


Kromatografi Kertas


Berbagai jenis pemisahan yang sederhana dengan kromatografi kertas


telah dikerjakan dimana proses dikenal sebagai analisa kapiler”. Kromatografi


kertas menggunakan satu zat padat menyokok fasa tetap yaitu bubuk selulosa,


digunakan kertas kering. Pelarut bergerak melalui serat-serat dari kertas oleh gaya


kapiler dan menggerakan komponen-komponen dari campuran pada jarak dalam


arah aliran pelarut (Sastrohamidjojo, 1985).

Kromatografi Kolom


Kolom kromatografi atau tabung untuk pengaliran Karena gaya tarik bumi


(grafitasi) atau system bertekanan rendah biasanya terbuat dari kaca yang


dilengkapi kran jenis tertentu pada bagian bawahnya untuk mengatur aliran


pelarut. Ukuran kolom dan banyaknya penyerap yang dipakai ditentukan oleh


bobot campuran yang akan dipisahkan (Gritter, 1991).


Kromatografi Cair Kinerja Tinggi


Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) atau biasa disebut juga dengan


HPLC (Hight Performance Liguid Chromatografhy) dikembangkan pada akhir


tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an. Saat ini, KCKT merupakan tehnik


pemisahan yang diterima secara luas untuk analisis dan pemurnian senyawa


tetentu dalam suatu sampel pada sejumlah bidang, antara lain: farmasi,


lingkungannya, bioteknologi, polimer, industry makanan.


Kegunaan maupun zwit umum KCKT adalah untuk pemisahan senyawa


organik,     anorganik,    maupun    senyawa    biologis;     analisis     ketidakmurnian


(impurities); analisis senyawa-senyawa tidak mudah menguap (non-volatil);


penetuan molekul-molekul netral, ionic, maupun zwitter ion: osolasi dan


pemurnian senyawa; pemisahan senyawa-senyawa yang strukturnya hampir sama;


pemisahan senywa-senyawa dalam jumlah sekelumit (trace element), dalam


jumlah banyak dan dalam skala proses industry (Sudjadi, 2007).


Kromatografi Gas


Kromatografi Gas (KG) merupakan fase gerak berupa gas lembam seperti


helium, nitrogen, argon, atau bahkan hydrogen yang bergerak dengan tekanan



melalui pipa yang berisi fase diam (Gritter, 1991).